Nrimo ing pandum –taken for granted-
“andai saja rizki itu berbanding lurus mengikuti kepintaran, pasti binatang-binatang nan bodoh itu kan punah”
Lantas rizki sendiri itu apa? Rizki adalah ffbgisyuryi hedkfdfd jdhuru dksjdk xxxx shd. Intinya rizki dalam pikiran saya adalah segala sesuatu yang bisa digunakan manusia. Meliputi fisik dan nonfisik. Positif maupun negatif, exsyempel: harta, kecerdasan dan kebodohan. Anak yang pinter dan bawel termasuk rizki. cantik dan buruk juga rzki, sehat dan sakit pun rizki.
Sampai dititik ini, kesadaran baru berdenting. Keras. Tuing-tuing-tuingg….. Meng-KO bangunan lama. Kesalahan pemahaman kronis, “bahwa usaha itu sebab diperolehnya rizki” terpatahkan. Terlalu banyak, orang yang berlari, pontang-panting mengejar buruannya (seperti manusia purba, kata fajar), yaitu rizki dan mimpi, namun dia gagal memperolehnya. Begitu pula seringnya saya melihat orang yang memperoleh rizki tanpa mengeluarkan jerih payah apapun. Rizki itu datang kepadanya dengan cara yang tak diduga.
Suatu cerita menghampiri, kisah musa tengah berkelana mengikuti seorang salih yang telah diberi ilmu, sampai di suatu dinding rumah yang hampir rubuh., lalu dia menegakkannya. Musa yang tidak sabar menunggu penjelasan, segera berkata “kalau engkau mau, niscaya engkau dapat meminta imbalan untuk itu”. Orang salih pun bercerita “adapun dinding rumah itu adalah milik dua anak yatim di kota itu, yang dibawahnya tersimpan harta bagi mereka berdua, dan ayahnya seorang yang salih. Maka tuhanmu menghendaki agar keduanya sampai dewasa dan keduanya mengeluarkan simpanannya itu sebagai rahmat dari tuhanmu. Apa yang kuperbuat bukan menurut kemampuanku sendiri…. ” simpanan tersebut ada disebuah kota yang kejam. Penduduk kota tersebut menolak memberi makan kepada musa dan orang salih, sementara mereka orang asing dalam kondisi lapar.
Logikanya, seharusnya sang salih tidak membangun dinding tersebut kecuali dengan kompensasi. Tapi karena melaksanakan perintah tuhan untuk menjaga simpanan anak yatim, maka perintah itu dijalankan tanpa banyak cingcong.. Yang sekaligus merupakan rizki bagi anak yatim di penduduk yang kejam ini.
Usaha bukanlah sebab diperolehnya rizki, tapi semata-mata merupakan kondisi dimana dari sana kadang bisa dapat rizki, bisa juga tidak dapat rizki. Usaha tidak selalu identik dengan rizki. Dan usaha tersebut tidak selalu mendatangkan rizki.
Tapi mohon, jangan dipahami kita tidak perlu usaha, yang bisa dikatakan adalah kita menerima “kadar” yang diberikan tuhan pada kita. Yang ada adalah usaha itu kewajiban. Selanjutnya, dalam jawa klasik kita bisa menelan konsep nrimo ing pandum. Menerima kadar yang diberikan.
Selanjutnya, tudingan berkurangnya rizki orang yang banyak belanja dijalan kebajikan hanya akan menyebabkan kehancuran, bukan saja hanya menjangkiti pikiran kapitalis kita sekarang, tapi juga pada orang salaf terdahulu. Ini dikarenakan pengertian mereka bahwa rizki adalah materi semata, sementara pengertian yang lain mereka enyahkan saja. Yang bisa berimbas pada promo pembatasan kelahiran. Sebuah asumsi, bertambahnya anak akan mengurangi rizki mereka, maupun rizki anak-anak mereka. Pemikiran seperti ini justru akan melanggengkan kehancuran. At-tahlukah (kehancuran), bahasa arab, diriwayatkan dari al-baihaqi, adalah kebakhilan, sebab kebakhilan tersebut akan menyebabkan kehancuran total.(arruuhu al-ma’aani, hal 17).
Terakhir, cuplikan berikut semoga menetramkan jiwa semuanya: janganlah kalian membunuh anak-anak kalian karena takut melarat. Kamilah yang memberi rizki mereka, juga rizki kalian
To my bro nd sist:teruslah bereproduksi demi menjaga ras manusia dari kepunahan…hoho****
0 Responses to “taken for granted –Nrimo ing pandum –”