Dalam klasifikasi sejarah bangsa indonesia, ada pembagian sistematika pengaruh. Ada pengaruh hindu, pengaruh islam, dan pengaruh kristen atau barat. Saya tidak (atau belum?)Mau mengatakan mereka semua penjajah. Sebagaimana saya juga tidak mau disebut penjajah ketika saya menjajahkan konsep yang saya yakini kepada kalian dan kamu mau menerimanya bulat-bulat. Sepenuhnya tanpa reserve. Kalau kamu menerima dan rela disebut pihak yang terjajah, saya pasrah dan menerima saja jika dikatakan penjajah. Hoho…
Ketiganya tadi (hindu, islam dan kristen) selama ini dikatakan sebagai pihak yang paling bertanggungjawab terhadap budaya bangsa kita (hah, kita?! Elu aja kali…) Mereka yang membentuk wajah budaya kita (hah, kita?! Elu aja kalii…). Tanpa kedatangan pengaruh itu, bangsa kita (apa? Kita lagi?! Elu aja kalee…) tidak akan punya budaya. Karena itu pula, budaya kita L hanya menghimpun pengaruh tadi.
Tanpa pengaruh, yang mungkin ada hanya budaya tanpa huruf |d|. Dengan begitu orang eropa pernah beranggapan bahwa kedatangan mereka ke negeri kita (!!!!!) Adalah untuk membudayakan kita, yang mungkin saja berarti menambahkan konsonan |d| kepada “buaya”!!
Barangkali ini perlu direnungkan oleh para buaya!